Siapa pun yang akan menempuh jalan Allah atau menjadi seorang salik hendaknya menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah sampai kepada-Nya sebelum mengetahui hakikat nafsu, mengerti karakternya, menentang keinginan buruknya, dan berhasil memenangi pertarungan dengannya.

Namun, memerangi hawa nafsu adalah perkara yang berat. Lebih berat dari memerangi musuh yang kasat mata, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sepulang dari salah satu peperangan:

 قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ.

Dengan artian, siapa saja yang berhasil mengalahkan dan mengungguli nafsunya, maka dia akan selamat dan bahagia. Sebaliknya, orang yang terkalahkan oleh nafsunya, maka dia akan merugi dan menyesal tiada tara di kemudian hari.

Pertanyaannya, mengapa manusia yang mampu mengalahkan nafsunya akan selamat dan bahagia, sedangkan manusia yang terkalahkan nafsunya akan menyesal?

Sebab, mereka yang mampu mengalahkan nafsunya mampu menahan diri dan keinginan nafsunya, sehingga berbuah rasa takut dan ketaatan kepada Allah.   Sementara manusia yang terkalahkan oleh nafsunya cenderung akan mengikuti keinginannya, melampaui batas, mementingkan kehidupan dunia, bahkan bertindak semena-mena melebihi makhluk tak berakal.

Walhasil, nafsu mendorong manusia untuk melampai batas dan mementingkan kehidupan dunia, sedangkan Allah mendorong hamba-Nya untuk takut dan menahan diri. Posisi hati seorang hamba berada di antara kedua dorongan itu. Sehingga mungkin ia condong kepada keingian nafsu, mungkin juga condong kepada dorongan Allah. Tak heran bila para ulama menyebut nafsu sebagai tempat ujian dan penyebab petaka bagi manusia yang masih dikendalikan keinginannya. Namun, tidak demikian halnya bagi manusia yang mampu mengendalikan nafsunya.

Dengan kata lain, saat berhadapan dengan nafsu, manusia terbagi tiga.

Pertama, ada yang mampu mengendalikan nafsunya, kedua, ada yang sesekali mampu mengendalikan nafsunya, namun terkadang terkalahkan oleh nafsunya, ketiga, ada manusia yang dikuasai sepenuhnya oleh nafsunya.

Nafsu inilah yang kemudian dikenali oleh para Ulama’ sebagai “nafsu amarah”, nafsu yang tak terbayang akan kembali kepada Allah, kecuali nafsu yang dirahmati-Nya, sebagaimana dalam Al-Qur’an:

  وَما أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *