Salah satu ciptaan Allah yang agung adalah diciptakannya manusia, bahkan Allah tidak segan menyebutnya sebagai khalifah di bumi, maka tidak heran jika kita temukan manusia-manusia luar biasa semisal nabi Muhammad, dan juga lainnya. Akan tetapi terkadang kita lupa atau bahkan sulit menyadari hal tersebut, andai saja bisa menyadari nisacaya itu lebih indah untuk dibayangkan. Pada dasarnya itu semua tergantung bagaimana kita mengedalikan hati dan juga akal, kita tidak bisa memisahkan antara keduanya, sebab tidak selamanya kita bisa mengdalkan akal tanpa memakai perasaan, pun juga sebaliknya , maka dalam situasi apapun keduanya harus berjalan bergandengan.  dalam hati terdapat empat hal yang keseluruhannya tidak akan pernah lepas, pertama sifat rububiyah(ketuhana) kedua sifat syetan, ketiga sifat kehewanan dan yang terakhir sifat berani. Berdasar yang pertama maka tidak heran jika terkadang manusia akan sombong,  senang dimuliakan, ingin mendapat perhatian, dan lain sebagainya yang menyangkut khusus sifat ketuhanan, maka ketika demikian adalah saatnya untuk memakai akal, apa benar jika seandainya melakukan hal tersebut, semisal sombong, ketika sombong berarti hati kita sedang merasa lebih baik dibanding orang lain, maka ketika ketika itu terjadi sudah barang tentu kita harus mengandalkan akal, berfikir pantaskah itu dilakukan, memutar otak dari mana kita berasal kemana akan kembali, dari siapa yang kita sombongkan dan seterusnya. Maka ketika demikian selaras sudah, dan itu akan mengembalikan kerja dari hati itu sendiri. Atau contoh ketika hati kita iri, bagaimanapun jika sudah melakukan sifat itu, dunia aka terasa sempit, maka untuk meredamnya kita gunakan akal sehat, apa gunanya iri, apa akibat iri, ketika akal sudah bisa mencerna, hati juga akan berhenti untuk sekedar mengumpat atau sebagainya.Juga semisal ingin dihargai, merasa diri lebih pantas untuk dihargai dan pantas untuk dipuji, maka tidak heran jika ada muda mudi yang terkadang malah balik membenci jika yang ia harapkan tak dihargai. Atau seseorang akan merasa sedih karena dirinya tidak dianggap oleh orang lain, berkecil hati karena dirinya seakan sudah tidak berarti, ini berati sudah menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, maka sampai kiamat dua kalipun jika itu yang dilakukan hidupmu akan sengsara, yang maha adil menilai hanyalah Allah Swt, jika di suatu tempat terliha cool dan di tempat yang lain di ejek Karen itu tidak sesuai, seharusnya akal sudah bisa memahami bahwa itu tida perlu di dengarkan. Dari itu kita tida asing dengan pepatah “peganglah yang benar lalu biarkan mereka menilai”, dua tangan tidak bisa menutup suara yang terdengar, tapi kedua tangan sudah sangat cukup untuk menutup dua kuping. maka sepatutnya ketika hati sudah bergerak demikian, gunakanlah akal untuk menghentikanya, sudah barang pasti  jika kau berharap pada selain Allah Swt hanya akan menyisakan luka. dan lagi-lagi akal harus kembali terlibat. Ini belum seberapa, masih banyak sifat yang kuasa yang terkadang tidak sadar sudah kita pakai. Maka sekali lagi gunakanla akal.

Kedua sifat syetan, akibat dari ini manusia akan menjadi kalap dan lupa daratan, jika sudah memakai sifat tersebut seseorang akan menjadi jahat dengki, buta mata buta hati. Maka jangan heran jika membuka salah satu saluran TV dan menonton berita “seorang laki-laki tega membunuh anak dan istri lantaran depresi tidak sanggup dengan biaya hidup yang harus ditangani”. Ini berarti akal tidak sepenuhnya digunakan atau memang sedang tidak digunakan, juga ketika ada yang nekat mencuri, membunuh, atau hanya sekedar menyakiti. Tidak terbayang sudah berapa banyak tindak kejahatan yang sudah kita jumpai, itu tidak akan terlepas karena sudah salah memakai sifat syetan.

Selanjutnya sifata kehewanan. Sebetulnya ini masih berhubungan dengan sifat yang kedua, dan yang jelas yang akan terjadi hanyalah bagaimana caranya bisa enak, tak peduli itu milik siapa, memenuhi segala sesuatu yang diminta nafsu, tetapi itu tidak akan berlanjut jika sejenak mau berfikir. Karena jika sudah bertentangan dengan akal itu tidak boleh dilakukan apa lagi sampai bertentangan dengan syari’at, sudah pasti itu harus dimusnahkan.

Dan yang terakhir adalah keberanian, maka yang satu ini tidak perlu dibahas panjang lebar karena sejatinya setiap manusia sudah memilki itu.

Secara kesuluruhan kempatnya tidak boleh dilakukan jika hanya mengandalkan hati, atau hanya sebaliknya, maka dari itu alangkah baiknya mari berfikir kembali bagaimana caranya agar hidup terasa lebih berarti, dunia tidak sesempit yang di definisikan, jika disebut Darul bala’ itu sudah pasti, namu Allah Swt menganugrahi manusia dengan akal, yang dengannya setiap indifidu bisa memilah kemudian bisa memilih. Akan terasa sulit ketika terkadang sudah mengikuti nafsu, bahkan tak ayal bisa buta karenanya, jika demikian maka kembali menggunakan akal dan hati, nafsu adalah sebagaimana yang dianalogkan oleh iman Al-Bushiri dalam karya monomentalnya yang berupa Burdah, nafsu itu sperti anak kecil, dia akan terus merengek jika yang dia inginkan tidak terpenuhi, maka kekanglah agar ia tidak semakin menjadi-jadi, tidak harus semuanya, ada juga nafsu yang dengannya bisa mendapat pahala, semisal jika itu sudah dihalalkan. Inti dari keseluruhannya, kekanglah akal dan hati dengan syari’at, maka hanya dengan cara itu insya Allah akan selamat.

Ach Busyri