Kisah  

JEJAK SULTONUL AULIYA BAGIAN 1

SULTONUL AULIYA SYAIKH ABDUL QODIR AL-JILANI

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, terlahir dari pasangan ayah dan ibunda dzurriyah Nabi Muhammad Saw, pada tanggal 1 Rhamadan 471 H/1079 M. Ayahnya dzurriyah Rasulallah Saw dari jalur Sayyid al-Hasan, sedangkan ibundanya dzurriyah Rasulallah Saw dari jalur Sayyid al-Husien adik dari Sayyid al-Hasan. Nisbat al-Jilani diambil dari suatu daerah Thabristan, Irak, yaitu Jilan, Jill, atau Kailan, tempat dimana beliau di lahirkan. Karenanya, terkadang orang menyebutnya,al-Jilan, al-Jill, atau al-Kailani.

Saat beliau Syaikh Abdul Qodir al-Jilani masih dalam kandungan ibundanya, Fatimah binti Abdullah ash-Shama’i al-Husaini, ayahanda beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad Saw bersama sejumlah sahabat, para mujahidin dan para wali. Dalam mimpinya itu Rasulallah bersabda, “ wahai Abu Shalih, Allah SWT akan memberi amanah terhadapmu, seorang anak yang kelak akan mendapatkan kedudukan tertinggi dalam tingkatan kewalian, sebagaimanan aku mendapatkan kedudukan tertinggi dalam kenabian dan kerasulan.”

Saat melahirkan Abdul Qodir kecil, umur ibunda beliau sudah 60 tahun lebih, bukan usia yang lazim bagi para wanita dari masa kemasa dalam melahirkan. Sungguh ini keajaiban yang tidak seperti bayi umumnya, anehnya sang Abdul Qodir kecil tidak pernah mau menyusu di waktu siang hari bulan suci Rhamadan. Sang bayi akan menangis minta disusui ketika matahari tenggelam di ufuk barat bertepatan dengan buka puasa bagi umat muslim. Keanehan luar biasa ini dimanfaatkan penduduk Jilan sebagai pedoman waktu imsak dan berbuka puasa.

Bukti Kejujuran Abdul Qodir Al-Jilani
Saat beliau remaja, ia pergi ke Baghdad untuk menimba ilmu dari para ulama di kota itu. Sang bunda membekalinya 40 keping uang emas, warisan ayahandanya. Supaya aman dalam perjalan, uang yang dibekalinya di jahitkan didalam jubahnya. Pesan ibundanya, hendaknya ia selalu berkata jujur dan bersikap benar. Sepanjang kehidupan beliau pesan ibundanya selalu dipegang teguh.

Dalam pengembaraan ilmu, beliau dihadang segerombolan perampok. Salah seorang perampok bertanya terhadap beliau, “apakah kamu memiliki barang berharga.” Beliau menjawab dengan jujur, ia memiliki 40 keping emas.
Perampok itu tidak percaya mana mungkin anak kecil seperti dia memiliki uang sebanyak itu. Perampok tadipun beranjak pergi, setelah itu giliran ketua gerombolan perampok mendatangi beliau, dan menanyakan hal yang sama seperti anak buahnya tanyakan, akan tetapi tetap saja beliau menjawab dengan jujur, kepala perampok heran mengapa anak ini begitu jujur, dia pun menanyakan mengapa mengaku dengan begitu jujurnya. Beliau menjawab, “saya diamanahkan ibunda saya untuk selalu jujur dan berlaku benar dalam keadaan apapun.” Ketua perampok itu menanyakan lagi, “kenapa kau tetap jujur padahal kau bisa saja membohongi ibumu, sedangkan kau jauh dari pengawasannya.” Benar, akan tetapi janjiku untuk jujur dan berlaku benar telah disaksikan Allah SWT, yang maha mengetahui perkara yang paling kecil dan perkara yang besar yang dilakukan hamba-hambanya.” Jawab beliau dengan tenang. Ketua perampok itu salut atas kejujuran beliau, dia pun bersimpuh dihadapan beliau, “kau menjaga janji terhadap ibumu, sedangkan kami melanggar janji tuhan kami,” ujarnya. Sejak itu gerombolan itu menjadi pengikut setianya Syekh Abdul Qodir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *