Apa itu Islam?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan. Bahwasanya Islam adalah; salah satu agama dari kelompok agama yang diterima oleh seorang nabi yang mengajarkan monoteisme tanpa kompromi, iman terhadap wahyu, iman terhadap akhir zaman, dan tanggung jawab. Bersama para pengikut Yudaisme dan Kekristenan, seluruh muslim–pengikut ajaran Islam–adalah anak turun Ibrahim. Alquran menyatakan Islam adalah agama yang ada sejak umat manusia. Islam yang menekankan pada tauhid adalah agama yang paling awal lahir. Hal ini merujuk sejumlah ayat-ayat Alquran. 

“ان الدِّينَ عند الله الْإِسْلَامُ ومن يبتغي غير الاسلام دينا فلن يقبل منه”

Syariat Islam pertama kali Allah SWT perkenalkan kepada Nabi Adam dengan memerintahkan dua putranya Habil dan Qabil berqurban. Sebagaimana yang telah tercantum dalam ayat berikut;

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ    

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil)…..”

Islam muncul di Semenanjung Arab pada abad 7 Masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat ayat-ayat Allah s.w.t. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. Islam berkembang ke Samudra Atlantik di Barat dan Asia Tengah di Timur.

Majelis Ulama’Indonesia mengatakan ;Islam berakar kata dari “aslama”, “yuslimu”, “islaaman” yang berarti tunduk, patuh, dan selamat. Islam berarti kepasrahan atau ketundukan secara total kepada Allah SWT.

Dalam salah satu fatwanya, salah satu tokoh agama Islam, yakni Qurais Syihab mengatakan; bagaimana bisa Islam disebut sebagai agama cinta. … “Islam agama cinta, betapa dia tidak menjadi agama cinta, sedang Allah SWT yang mensyariat agama ini adalah Dia yang maha pencipta, Dia Al Waddud,” paparQuraish.

Islam merupakan agam yang mengangkat martabat seorang wanita. yang mana seseorang wanita pada zaman jahiliah adalah mahluk yang di anggap sangat hina. Membawa kesialan, dan anggapan-anggapan buruk lainnya terhadap seorang wanita. Sempai pada akhirnya Islam datang dan memuliakan seseorang wanita. Perempuan dalam Islam merupakan makhluk Allah yang memiliki banyak keistimewaan. Sebagai seorang anak yang akan tumbuh dewasa menjadi seorang istri dan seorang ibu, seorang perempuan sangat dimuliakan perannya dalam kehidupan.

Alquran menjelaskan bahwa kedudukan perempuan dalam Islam sama dengan laki-laki. Perempuan diciptakan sebagai pasangan buat laki-laki bukan sebagai budak atau harta yang bisa diperjual-belikan.

Pada zaman jahiliyah wanita dipandang rendah, budak nafsu, bahkan tidak berarti sama sekali. dahulu kelakuan para kafir Quraisy terhadap perempuan sangatlah keji karena tidak mengizinkan perempuan untuk hidup. Oleh sebab itu, pada zaman jahiliyah, setiap orang tua yang melahirkan anak perempuan akan membunuh anaknya hidup-hidup.

Keistimewaan perempuan dalam Islam

Sebagaimana laki-laki, hak perempuan juga terjamin dalam Islam. Pada dasarnya, segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak perempuan. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki. Selain hal tersebut, perempuan memiliki keistimewaan tersendiri di mata Islam.

Dalam agama kita Islam, banyak sekali tokoh masyarakat yang tentunya dapat membantu penyebaran dan pengajaran Islam. Khususnya bagi para kaum awam yang pengetahuannya sangat dangkal atau bahkan minus tentang agama. Beberapa pejuang Islam yang terdiri dari sunan-sunan yang merupakan tokoh penting agama. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu wali songo (sembilan wali) penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Konon, Sunan Gresik dianggap sebagai orang yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Masuknya kebudayaan Islam Pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Perpaduan kebudayaan lokal dan islam menghasilkan akulturasi dalam berbagai bidang kehidupan di Indonesia. Pengaruh kebudayaan islam pada masyarakat tercermin pada berbagai bidang. Salah satunya pada bidang agama. Pada masa islam, sebagian besar masyarakat di Indonesia menganut agama islam. Meskipun demikian, masih terdapat masyarakat yang menganut agama Hindhu, Budha, atau menganut kepercayaan terhadap roh halus. Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat di Indonesia menganut agama islam.

Ibarat kata, Islam adalah merupakan rumah bagi hamba Allah. Yang mana sebagimana lazimnya, sebuah rumah membutuhkan fondasi (kepercayaan dalam hati) kemudian tiang yang kokoh (rukun Islam) agar dalam terjangan apapun kita mampu untuk selalu melewatinya dengan mudah. Sebagai umat Muslim kita tentu tahu kalau Hakikat Muslim yang paling penting adalah Lima Rukun Islam. Lima Rukun Islam adalah lima kewajiban yang harus dipenuhi setiap Muslim untuk menjalani kehidupan yang baik dan bertanggung jawab menurut Islam. Mari kita ingat kembali kewajiban-kewajiban sebagai Muslim yang harus kita taati:

Lima Pilar terdiri dari:
Syahadah  :  Dengan tulus menyatakan keyakinan akan keesaan Allah (tauhid) dan penerimaan Nabi Muhammad sebagai Utusan Allah.

Shalat  :  Melakukan sholat dengan cara yang benar lima waktu sehari

Shalat  :Melakukan sholat dengan cara yang benar lima waktu sehari

Zakat  :Membayar sedekah (atau amal) untuk memberi manfaat bagi orang miskin dan yang membutuhkan

Shaum  :Berpuasa selama bulan Ramadhan

Haji :Pergi haji ke Baitullah (bagi yang mampu)

Kita memiliki negara yang telah memiliki patokan atau yang disebut Pancasila yang mana Pancasila tidak lepas dari kebenaran agama. Seperti yang tertera dalam Pancasila urutan pertama; ketuhanan yang maha esa. Disini kita diajarkan tentang keesaan Allah (Attauhid Lillah) Meskipun  Indonesia tidak menerapkan hukum Islam secara menyeluruh seperti Arab Saudi atau Qatar, namun pada dasarnya nilai-nilai yang terkandung dalam Islam juga diterapkan dalam hukum.

Kebangkitan Islam merupakan fenomena sejarah nasional yang menumbuhkan kembali semangat iman, stagnasi pemikiran dan fikih, serta gerakan (harakah) dan jihad. Kebangkitan ini juga membawa ujian-ujian bagi umat Islam sehingga mendorong mereka mencari sebab-sebab kejatuhan dan kehinaan yang menimpa. Beranjak dari kesadaran ini, mereka menemukan kesadaran baru, yaitu: menghidupkan iman, mengaktifkan pemikiran, dan menggairahkan gerakan Islam. Dalam hal ini, Al-Qur’an telah mengisyaratkan melalui kisah perjalanan Bani Israil (awal surat al-Israa’) dan Al-Hadits yang menjelaskan tentang lahirnya pembaharu setiap satu abad. Sejarah Islam pun membuktikan isyarat ini.

Kebangkitan Islam adalah bagaimana mendayagunakan potensi umat Islam. Dengan demikian, perlu upaya yang serius dan kerja keras yang konsisten untuk membangun sumber daya manusia yang tangguh sebagai penyangga peradaban Islam.

Sebagian sejarawan dan pemikir muslim mengatakan penurunan peradaban agama Islam karena pemerintahan Islam tidak lagi cinta terhadap ilmu pengetahuan, sehingga peradaban Islam mengalami kemunduran. Hal ini berbeda jauh dengan para pendahulunya yang sangat mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Para pemimpin Islam dahulu bahkan sangat mencintai ilmu dan senang terhadap aktivitas ilmiah, seperti seminar dan perdebatan yang bisa mempertajam nalar dalam memahami sebuah persoalan. Mereka juga punya perpustakaan pribadi sebagai tempat mereka membaca dan merefleksikan beragam persoalan yang dihadapi dalam kesehariannya. Selain itu, ada juga yang menyebut masalah mendasar mundurnya peradaban Islam karena integrasi bangsa. Dunia Islam terpecahpecah ke dalam kerajaan atau bentuk negara-negara kecil. Akibatnya, dunia Islam kehilang an kekuatannya.

Maka dari itulah kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama. Sudah sepantasnya untuk terus berjuang dengan belajar, dan terus menggali sejarah dan memperdalam pengetahuan tentang agama. Menoleh kembali pada pejuang-pejuang terdahulu. Membangkitkan semangat, menghidupkan kobaran jihad dalam jiwa.

mushfiah MH