Fikih  

Puasa Dapat Menahan Diri Dari Hasrat Birahi

Dalam Islam, kita mengenal istilah puasa.Pekerjaan yang melatih mengendalikan diri dari semua keinginan-keinginan yang muncul dari hasrat birahi agar tersucikan dari kotoran-kotoran yang melekat dalam hati dan melebur kotoran (dosa) yang bisa menjauhkan diri dari Allah swt.
Dengan puasa, kita akan bisa merasakan hal yang sama dengan yang dihadapi oleh fakir miskin atas kehidupan mereka yang begitu berat. Sehingga, kita mengerti bahwa kita semua sangat membutuhkan Allah swt. Puasa juga menunjukan bahwa kita sama dengan mereka kerena di hadapan Allah swt. yang dipandang adalah takwa seseorang.
Puasa secara bahasa memiliki makna menahan diri segala hal.termasuk menahan diri dari berbicara. Bedasarkan firman Allah swt.:
إني نذرت للرحمان صوماأي سكوتا
Artinya: “Sesungguhnya aku telah bernazar kepada Tuhan yang maha pemurah untuk berpuasa (menahan diri dari berbicara ).”(Q.S. Maryam 26).
Sedang kan istlah Syariat, puasa memililki arti pekerjaan yang dilakukan oleh orang Islam yang berakal dan suci dari haid serta nifas untuk menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa mualai dari terbenamnya matahari dengan disertai niat khusus. Fajar sidiq akan muncul dengan ditandai tampaknya sinar yang melintang sejara horizontal di ufuk timur. Bukan ditandai dengan dikumandangkannya azan subuh. Sebaiknya mengakhiri sahur ketika imsak karena biasanya jadwal azan salat lima waktu. Ditambahkan waktu ihtiyat (hati-hati) sesuai ketentuan ilmu falak. Sehingga seseorang yang mengakhirkan sahurnya tepat ketika azan subuh. Maka puasanya batal karena fajar sidiq sudah terbit sebelumnya.
Puasa ditinjau dari tata cara pelaksanaannya memiliki empat hukum yaitu, wajib, sunah, makruh, dan haram.

Bila seseorang telah memenuhi syarat wajib puasa, maka bisa dikatakan sah buasanya bila telah menuhi syarat sah puasa yang berjumlah empat macam, yaitu:
1. Isalam
Jika di tengah melakukan puasa seseorang murtad, walaupun sebentar, maka puasanya batal.
2.Berakal
Puasa dapat dihukumi sah jika dilakukan oleh orang yang berakal, baik telah mencapai batas balig maupun belum. Sebaliknya, puasa yang dilakukan anak kecil yang sudah tamyiz tetap dihukumi sah meskipun ia tidak wajib puasa. Jika di tengah melakukan puasa seseorang menjadi gila, walaupun sebentar, puasanya dihukumi batal.
Tapi, seseorang yang epilepsi dalam waktu sebentar puasanya dihukumi sah.
3. Tidak hid, nifas, atau melahirkan.
Jika di tengah melakukan puasas seorang wanita haid, nifas, atau melahirkan walupun sebentar, maka puasanya tidak sah.
4. Dilaksanakan di hari-hari yang diperbolehkan puasa
Puasa dihukumi sah jiak dilakukan di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa. Seperti ibadah lainnya, puasa juga memiliki rukun yang harus dipenuhi oleh orang Islam yang diwajibkan berpuasa.
Rukun puasa ada 3, yaitu:
1. Niat
2. Orang yang berpuasa (sha’im).
Yang dimaksud dengan orang yang berpuasa adalah orang-orang yang memenuhi syarat wajib dan syarat sah puasa.
3.menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *