Jejak Kaum Sufi Terpesona Keindahan Malam

Kehidupan malam selalu menawan hati para sufi untuk senantiasa menghidupkan dan mengisinya dengan aneka ragam ibadah, bagi mereka malam adalah keteduhan. Malam juga berarti ruang yang amat sayang jika dihabiskan dengan tidur lelap, oleh sebab itu kita patut mengapresiasi usaha mereka yang tidak ingin sedikitpun kehilangan indahnya munajat qiyamul-lail. Habibah al-Adawiyah ketika selesai salat Isya berdiri di atas atas atap rumahnya, beliau kenakan pakaian dan kerudungnya, lalu berkata; ‘’wahai tuhanku, bintang telah muncul, mata telah tidur, para raja telah menutup pintunya, sementara pintumu masih terbuka, masing-masing menyindiri dengan pasangannya, inilah aku berada dihadapanmu, kemudian ia mulai shalat dan munajat kepada Tuhannya hingga akhir malam’’.

Ketika akhir malam ia berkata “ya Allah malam telah berlalu dan siang akan datang, duhai, apakah ibadah malamku sehingga aku memberi ucapan selamat atau ditolak sehingga aku harus berbela sungkawa?’’

Berawal dari keteguhan niat

Disarikan dari kitab al-Minah as-Sanniyah karya Abdul Whab as-Syakroni bahwa bangun malam adalah bagian dari roda penggerak menuju makam kewalian. Beliau menyebutkan diantara kekasih Allah, ada yang disebut ”wali afdal’’ sedang tariqah untuk mencapainya bisa dilakukan dengan empat cara yaitu, diam (dari berbicara yang tidak bermanfaat),uzlah (mengasingkan diri), terbiasa lapar, dan tidur di malam hari, oleh sebab itu kita bisa melihat kesungguhan dan mujahadah kaum sufi dalam menjalankan suluk tampak begitu total.

Dari sini kita akan melihat keteguhan usaha para ulama untuk senantiasa menghidupkan malam. Sebagaimana yang di jelaskan oleh al-Baihaqi dalam makrifat as-Sunan Wal Atsar bahwa Imam Syafi’i membagi malamnya menjadi tiga bagian. yang pertama untuk menulis, yang kedua untuk salat, dan yang ketiga untuk tidur.

Kesyahduan malam telah menumpahkan kaum sufi, sebab mereka sadar bahwa hanya di malam hari seorang hamba diistimewakan dengan tersingkapnya tabir, hampir tidak ada sekat, maka tak ayal air mata membasahi setiap munajatnya. Kehiningan malam menjadi aransemen indah yang membawa seseorang untuk wushul, maka kerap kali kerinduan yang membuncah berujung derai air mata. Suatu ketika ada seseorang bertamu kerumah Imam al-Auza’i lalu tamu tersebut melihat ada basah ditempat sujud Imam al-Auza’i, semula hal itu adalah bekas tangis Imam al-Auza’i dalam sujudnya.

Dosa terbesar bangun kesubuhan.

Seperti ketika di anugrahi munajat kaum sufi akan sangat bersyukur, maka saat hilang kesempatan sebab bangun kesiangan maka sedih malam akan merundung. Sufyan at-Tsauri pernah mengungkapkan, ia pernah selama lima bulan berturut-turut terhalangi melakukan qiamul-lail lantaran dosa kecil yang ia lakukan. Akibat hal itu sufyan merasa tersiksa dalam penyesalan panjang, seperti hati dilanda ke asmaraan, dan malam tempat peraduan, maka jika waktu yang ditunggu justru tidak jua mempertemukan, maka kegelisahan akan segera datang, mungkin ini juga yang dirasakan oleh kaum para sufi. Malam adalah medan untuk menumpahkan kerinduan kepada sang maha cinta, tak heran jika seorang pujangga berilusi agar semua hari adalah malam tanpa siang. Sang pujangga bekata’’ duhai malam panjanglah, duhai tidur enyalah, duhai subuh berhentilah (dari putaran waktu) kumohon jangan terbit’’.

Yahya Farhani

Santri Aktif PP. Nurul Ulum Tagrinih Timur

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *