Akidah  

MENOLAK PEMAHAMAN ALLAH WAJIB BERBUAT BAIK

Ketahuilah bahwa ada sebagian firqoh mempunyai pendapat bahwa, Allah wajib berbuat baik pada hambanya, artinya hal-hal yang mungkin rusak pada hambanya, maka Allah wajib mengubah pada yang baik, semisal iman yang menjadi lawannya kafir, sehingga aliran ini mempunyai asumsi bahwa, apabila ada dua perkara yang satunya baik dan satunya lagi buruk, maka, Allah wajib mengubah pada yang baik yakni iman di antara keduanya.

Pendapat lain dari firqoh ini ialah Allah wajib melakukan yang terbaik pada hambanya, dengan artiyan,hal yang berlawanan antara baik dan yang terbaik, semisal ada orang masuk surga pada level yang paling tinggi dan lawannya orang yang ada pada level terendah, maka, menurut aliran ini, bila ada dua perkara seperti itu, maka, Allah wajib melakukan yang terbaik yakni orang yang ada pada level paling bawah, Allah wajib mengubah orang tersebut pada level surga paling atas. Lantas bagaimana menanggapi pemahaman di atas?

Sudah familiar, bahwa, Allah hanya jaiz untuk melakukan hal yang mungkin dan meninggalkan parkara mungkin tersebut. Sebagaimana yang tertera dalam nadhom aqidatul awamnya.

وَجَائِزٌ بِفَضـْلِهِ وَعَدْلِهِ تَرْكٌ لِكُلِّ مُمْكِنٍ كَفِعْلِهِ

Dan adalah boleh dengan anugerah Allah SWT dan keadilannya, ialah meninggalkan segala yang mungkin seperti halnya Dia melakukannya.

Jadi, misal Allah menjadikan orang itu beriman atau kafir sebagaimana yang ditamtsilkan di muka, entah ia iman sampai meninggal atau meninggal dengan membawa kekafiran, maka itu tergantung Allah karena itu hanya sebatas jaiz saja pada Allah. Sama hal-nya dengan contoh di atas, yaitu bila level kebaikannya ialah yang paling tinggi atau paling rendah, itu, sama jaiz terhadaap Allah.

Tapi menurut syekh Ibrahim Al-Baijuri kebathilan pendapat tersebut ialah pendapat pertama yang berdalih, bahwa, Allah wajib berbuat baik pada hambanya, karena yang baik lebih umum dari-pada yang lebih baik sehingga apabila yang umum sudah rusak maka otomatis yang khusus rusak juga, sebagai-mana pendapat kedua bahwa, Allah melakukan kebaikan dengan menempatkan hambanya dalam surga paling bawah, jadi, bila kebaikan ini rusak, maka, yang lebih baik (dengan menempatkan hamba pada surga teratas) rusak juga.

Sebagaimana dalam kitam tuhfatul-murid hal: 73

والمصنف تلكم في إبطال مذهبهم على الأولى دون الثانية، لأن الصلاح أعم من الأصلح، وإذا بطل الأعم بطل الأخص

“Penulis membahas mengenai pembatalan doktrin mereka berdasarkan yang pertama dan bukan yang kedua, karena yang benar itu lebih umum daripada yang terbaik, dan jika yang lebih umum batal, maka yang lebih khusus juga batal.”

BERBEDA PENDAPAT

Ada dua aspek perbedaan dalam firqoh tersebut, pertama, dalam mengartikan lafal ashlah, ada yang mengartikan ashlah dengan yang lebih cocok dan ada yang mengartikan ashlah dengan lebih manfaat. Kedua, pada kata, allah wajib barbuat baik dan yang terbaik pada hambanya, menurut pendapat pertama, berlaku di dunia dan akhirat. Tapi pendapat lain khhusus di dunia saja:

Perbedaan pendapat ini bermula dari kasus syekh abi Hasan Al-Asyari yang mufaroqoh dari gurunya yang Bernama syekh Abi Hasan Al-Jubbai bahwa imam as-asyri saat belajar pernah bertanya pada gurunya. Apa pendapat kamu bila ada tiga orang mati yang pertama mati dengan keadaan sudah baligh dan ia taat yang kedua sudah baligh tapi ia maksiat yang terakhir mati dalam keadaan belum baligh (masih kecil)? Syekh al-Jubbai menjwab:yang pertama mendapat pahala dan masuk surga, yang  kedua disiksa dan masuk neraka dan yang ketiga tidak mendapat pahala dan tidak disiksa. Imam asyari bertanya lagi seandainya orang yang ketiga itu mengadu pada tuhan, mengapa kamu mengambil ruh-ku saat masih kecil, andai saja saya tidak mati, pasti saya akan taat sehingga masuk surga. Lantas bagaimana jawaban tuhan? Syekh al-Jubbai menjawab :karena tuhan sudah tahu jika kamu tidak mati saat masih kecil maka kamu akan maksiat dan masuk neraka makannya tuhan melakukan yang terbaik pada anak tersebut dengan mengambil ruh-nya saat masih kecil. Imam asyari bertanya lagi, bagaimana jika orang kedua mengeluhpada tuhan, mengapa engkau tidak mengambil ruh saya saat masih kecil sehingga saya tidak masuk neraka. Lalu bagaimana jawaban tuhan? Syekh Al-Jubbai tidak bisa menjawab pada pertanyaan ini. Kemudian imam asyari mufaroqoh dari madzhab yang diikuti oleh gurunya.

M. Jazuli

Santri Aktif PP. Nurul Ulum Tagrinih timur

Respon (17)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *