SALAH SEDIKIT, JANGAN SIKAT SEMUA

  • Bagikan

Ada kisah menarik perihal penciptaan manusia pertama yang termaktub dalam al-Quran. Ketika Allah SWT hendak menjadikan pemimpin di muka bumi berupa manusia,malaikat menyingsikan,”mengapa Allah menciptakan mahluk yang berpotensi mermbuat kerusakan di muka bumi, dan bahkan saling menumpahkan darah?” Namun, kenyataannya, Allah tetap menjdikan manusia sebagai pemimpin. Cerita tersebut tertuang dalam surah al-Baqarah ayat 30. Teladan apa yang bisa kita ambil? Sambil mengingat mata pelajaran mata pelajaran tafsir mengutip dari al-iklil karya imam jalaluddin As-Suyuthi.

Menurut beliau,ada tiga hikmah yang terkandung di dalamnya poin keduanya ialah;

وأن الحكمة تقتضي إيجاد ما يغلب خيره وإن كان فيه نوع شر

“juga hikmah yang terkandung di ayat tersebut ialah mendorong terciptanya perkara yang dominan baik, meski ada satu macam keburukan”.

Idealnya seseorang cenderung menginginkan sesuatu yang tanpa cacat sedikit pun. Namun harus di akui pula, mahluk adalah tempat kecacatan lantaran yang maha sempurna hanyalah Allah. Maklumlah bila ada mobil mewah nyaris sempurna, tetapi masih ada sedikit kerusakan. Saat menemukannya, tentu segera kita perbaiki kerusakan itu, bukan malah membuang mobilnya.

Bayangkan saja, bila Allah SWT gagl menciptakan manusia, lantaran dapat membuat kekacaun di muka bumi. Barang tentu, kita semua tidak ada. Akan tetapi, Allah SWT berkehendak lain. Pastinya itu yang terbaik. Memperbaiki kerusakan ialah memperbaiki sebatas kerusakan itu saja, alias sesuai kadarnya. Ibarat digigit nyamuk, tentu cukup mengantisipasinya dengan gerakan tangan, bukan malah melempar bom/granat. Alasannya jelas, kadar mengusir nyamuk hanyalah sebatas melambaikan tangan, sedangkan bom/granat untuk menghancurkan bangunan. Bila menemukan saudara kita bermaksiat, hal terbaik yang mesti dilakukan ialah menegurnya, bukan malah memusuhinya, atau bahkan menghujatnya.

Ingat, kewajiban muslim, selain mengerjakan perintah agama dan meninggalkan larangannya, ialah mencegah orang lain bermaksiat. Begitulah yang tertera di kitab Sullamut-Taufiq. Jika kita memusuhi atau atau bahkan menghujat, bukan nahi munkar yang dicapai, tetapi justru kita melakukan kemungkaran baru. Sama halnya dengan metode dai yang mengajak para pemabuk menunaikan shalat. Bila anda benar-benar ingin nahi mungkar, maka jauhkan orang itu dari minuman keras, sehingga mereka bisa sholat dalam keadaan normal, bukan malah melarang dia menunaikan sholat. Lebih parahnya lagi, jika kita tidak ikut mengajak pemabuk kejalan Allah SWT, malah sibuk mencaci-maki dai’ yang berusaha para pemabuk tersebut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.