Pertumbuhan manusia terbagi menjadi tiga fase; anak-anak, remaja, dan dewasa. Dalam istilah ilmu psikologi, dunia remaja dikenal sebagai sebuah peralihan dari masa anak-anak menuju­­­­ dewasa.

Peralihan ini memunculkan pola pikir yang masih labil __labil adalah antonim (lawan kata) dari stabil__ alias belum matang dan belum bisa bertindak secara rasional. Perkembangan ini biasa disebut dengan pubertas. Maka dari itu tak heran jika sedang masa puber, muda-mudi mempunyai kecendrungan perasaan terhadap lawan jenis  serta gampang meniru perilaku sosok yang diidolakan . Karakteristik remaja yang suka meniru ini juga gampang cepat kesemsem mengidolakan orang lain. Permasalahannya, sudah tepatkah figur idola yang kita kagumi? Anta a’lamu bihi minni (kamu lebih tahu  tentang idolamu dari pada saya).

Pertimbangan sangat diperlukan dalam menentukan pilihan, dengan artian sebelum menentukan idola kita harus tahu akan dibawa kemana hidup ini agar tidak menyesal kemudian hari. Sebab ketika keliru memilih idola meskipun prilakunya benar-benar salah, nasehat dari siapapun akan diabaikan. Biasanya cara pikir remaja hanya sekali dan sebatas jangka pendek saja, dengan menghiraukan akibat setelahnya. Yang penting fun, happy and enjoy, urusan besok apa kata nanti saja, begitulah yang biasa melekat pada diri remaja. Pengaruh idola begitu besar, layaknya pengaruh kekasih yang sedang dilanda mabuk asmara. Misalkan mengidolakan pemain bola, maka setiap apa yang berhubungan dengannya sang idola akan ditiru mulai dari style hingga fashion. Tolak ukur dalam memilih idola ialah mencari sosok yang searah dengan apa yang telah dicontohkan para ulama.

Harus digaris bawahi memilih idola tidak harus tampan atau cantik, saat ini kita lebih banyak terbuai oleh paras wajah. Kalau hanya wajah yang jadi tolak ukur bisa-bisa penyesalan akan menghantui kita. Mari berfikir jernih sejenak, apa manfaatnya wajah tampan rupawan dan cantik menawan? Toh, kita tidak dapat manfaat apa-apa,  lebih tragis lagi jika sosok idola tersebut memiliki sifat sombong nan apatis. So, tinggal bagaimana sekarang kita selektif memilih idola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *