Di dalam masalah Ruh dan hal hal Gaib ada beberapa pondasi mendasar yang harus di yakini dan tidak bisa dilogikakan  oleh manusia, sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Sebab, sumber dari dua hal ini adalah Al-Quran dan Hadis Shahih.

Pertama, bahwa masalah ruh itu adalah masalah gaib dan hanya Allah saja yang mengetahuinya, tidak ada manusia di dunia ini yang dapat mengetahui hakikat ruh itu sendiri. Bahkan rasul ketika ditanya oleh orang-orang Yahudi tentang ruh, apakah yang diazab kelak itu ruhnya atau jasadnya, beliau SAW diperintahkan menjawab dengan kalimat “itu urusan Tuhanku”. Peristiwa ini didokumentasikan di dalam Al-Quran, (Qs. Al-Isra’:85).

Kedua, kita sepakat bahwa hamba Allah terbaik dan sempurna di muka bumi ini adalah Rasulullah Muhammad SAW, tidak ada satu orang pun yang mengingkari ini. Walaupun begitu, bahwa beliau menyatakan tidak dapat mengetahui hal yang gaib, karena itu urusan Allah. Beliau menyatakan tidak bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan kecuali yang dikehendaki Allah. Hebatnya, Rasul masih tawadhu’ tidak mengakui kemampuannya, tapi semua itu atas kehendak Allah.

Maka, jika ada orang yang mengaku mengetahui yang gaib, maka hal itu tidak bisa dibenarkan sama sekali. Saiyidah Aisyah pernah melaporkan hadis, “Barang siapa yang mengatakan bahwasanya Rasul SAW mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari, maka sungguh dia telah berbuat dusta yang besar kepada Allah.

Ketiga, Malaikat juga termasuk makhluk gaib bagi manusia, sebab tidak bisa dirasakan oleh wujud panca indera manusia. Maka manusia dipastikan tidak bisa memanggil “Mendatangkan” apalagi menyuruh-nyuruh malaikat. Malaikat itu hanya tunduk kepada Allah saja. Bahkan ketika wahyu sementara waktu ditunda oleh Allah, Rasul merasa gelisah dan itu pun Rasul tidak dapat memanggil malaikat Jibril, sebab malaikat Jibril hanya tunduk dan patuh diperintahkan oleh Allah.

Maka dari itu, menanggapi pernyataan orang-orang yang mengaku-ngaku bisa memanggil / mendatangkan Malaikat ataupun para Nabi, kita sebagai kaum Muslim tidak wajib mempercayainya dan pernyataan tersebut tidak bisa di bernarkan dalam Islam, sebab bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Percaya dengan pernyataan tersebut, berarti sudah tidak beriman terhadap Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW.

Maka, orang-orang yang mengaku di atas harus segera bertaubat. Karena pada hakikatnya tidak ada satu orang-pun yang diberikan keutamaan seperti itu sampai Rasul pun tidak, kecuali yang telah diberitakan oleh Allah Swt.

 Wallahu a’lam.