Akhlak yang diajarkan agama Islam dalam memahami qada dan qadar adalah sebagaimana berikut. Ketika seseorang mengalami sebuah tragedi, kecelakaan, cobaan, ia mungkin akan menganggap bahwa apa yang menimpa dirinya merupakan takdir dari Yang Maha kuasa. Akan tetapi terkadang kita bingung “takdir” yang seorang tadi asumsikan masuk pada ranah Qada dan Qadar?

Ibnu Hajar al-Asqallani pernah mendeskripsikan mengenai qada dan qadar. Beliau berkata, “Para ulama berkata qada adalah keputusan Allah yang menyeluruh secara global pada zaman azali. Sedangkan Qadar ialah satuan dari beberapa keputusan Allah secara terperinci.” Kendati ulama berbeda pendapat mengenai terminologis  qada dan qadar, di sini penulis menjadikan pendapat Syekh Ibnu Hajar al-Asqallani sebagai acuan.

Jika mengacu pada deskripsi di atas bisa penulis simpulkan, seseorang yang di dalam perjalanan hidupnya dipastikan (ditakdirkan) mengalami sebuah kecelakaan merupakan qada dari Allah SWT. Sedangkan kapan terjadinya kecelakaan, luka apa saja yang diderita, bagaimana prosesnya merupakan Qadar dari Allah SWT. Hal ini murni buah pemikiran penulis sendiri.

Menurut Syekh Ibnu Hajar al-Asqallani akhlak yang diajarkan agama Islam dalam memahami qada dan qadar adalah kata “takdir” yang sering kita ungkapkan merupakan qada dan qadar itu sendiri. qada dan qadar adalah dua komponen yang saling bangun-membangun dan tidak bisa dipisahkan untuk memunculkan istilah takdir.

Dalam kitab Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari Ibnu Dailami, beliau berkata, “Aku mendatangi Ubay bin Ka’ab, kemudian aku sampaikan kepadanya bahwa dalam hatiku terjadi sebuah renungan tentang Qadar, kemudian aku meminta nasehat darinya sekiranya Allah menghilangkan keraguan dari hatiku.” Ubay bin Ka’ab berkata, “Seandainya Allah hendak mengazab semua penduduk langit dan bumi, maka Allah akan mengazab mereka dan Allah sama sekali tidak menzalimi mereka. Jika seandainya Allah merahmati mereka, niscaya rahmat Allah lebih baik bagi mereka dari pada amal ibadah mereka. Jika seandainya engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud untuk membela agama Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya darimu hingga engkau iman, percaya, dan yakin akan Qadarnya Allah SWT. Ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang menimpa dirimu, maka hal tersebut tidak akan meleset darimu. Dan sesungguhnya apa yang tidak menimpa dirimu, maka tidak akan pernah mengenaimu. Jika seandainya engkau mati sedangkan engkau tidak beriman kepada Qadarnya Allah, niscaya engkau akan masuk neraka.